Selasa, 16 Desember 2008

TAKBERUJUNG



Teater Delik UNS, saat mementaskan Aduh di Fakultas Sastra Undip Aduh

Kebimbangan Tak Berujung

Oleh : Sony Wibisono
TIDAK jarang niat baik selalu mendapat halangan, bahkan ketulusan hati seringkali menjadi bumerang। Lucunya, batas antara keberanian sikap dan kepengecutan sudah demikian kabur sehingga manusia yang ingin menolong sesamanya pun harus terjerumus dalam kerumitan wacana itu. Begitulah mungkin wacana yang sedang didedahkan Teater Delik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, melalui naskah
Aduh.

"Lihat ia terluka, pasti orang ini sakit. Ayo lekas kita tolong," ujar salah satu tokoh saat menemui seseorang yang tengah sakit di kampungnya. Kondisi tokoh yang membuka adegan pementasan di Fakultas Sastra Undip, Sabtu (13/12) malam itu memang menyedihkan. Ia terhempas begitu saja dengan luka di sekujur tubuhnya. Namun niat menolong itu tidak begitu saja disetujui para penduduk kampung. "Ah, biar saja. Mungkin dia orang yang dulu lagi, yang berpura-pura sakit biarkan saja dia," sahut tokoh lain. Sedari awal memang sudah sangat tampak konflik enam tokoh tentang kedatangan orang sakit di kampungnya. Tiap tokoh punya pandangan sendiri pada orang yang sakit tersebut. Sebagian merasa iba, lainnya terkesan cuek, juga ada yang ngotot tidak mau bertanggungjawab. Digambarkan dalam naskah, para penghuni kampung memang sering tertipu, orang-orang sepeti itu. Alih-alih menerima simpati pada usaha baik, menolong orang lain justru sering menyalahkan karena mereka gagal menolong. Ya hal itulah, yang membuat mereka semua menjadi bimbang, dan dari situlah muncul permasalahan sebenarnya. Dan pada akhirnya mereka harus bertanggungjawab atas kekalutan dan kebimbangan mereka. Sampai pada akhirnya orang sakit itu mati, mereka pun belum punya ketegasan dan kekompakan sikap untuk mengurusi mayat tanpa identitas itu. Ya, kebimbangan tak berujung itu membuat mereka salah langkah. Inilah tampaknya intisari pertunjukan tersebut Naskah karya Putu Wijaya itu memang sangat cerdas memainkan simbol atas kesemrawutan dan disorientasi masyarakat. Meski disimbolkan dalam lingkup komunitas yang lebih kecil, namun bisa merangkum banyak persoalan. Sayangnya naskah Putu yang penuh dengan simbol, sindiran, dan kritik itu kurang dimaksimalkan Teater Delik. Banyak dialog kritis, sindiran, dan guyonan ironis yang tidak tersampai. Para pemain tampaknya belum siap memasuki medan dialog Putu yang kerap meneror itu. Mungkin masalah itu terasa wajar mengingat pertunjukan yang disutradarai Setiawan Hardiyanto itu dilakoni oleh pemain dengan jam terbang yang masih minim. Satu hal yang membuat pertunjukan Aduh malam itu lebih cantik, adalah dukungan musikalitas yang apik. Rapinya komposisi Volt cs, kemerduan alunan vokal Putri serta ketepatan keluar masuk ilustrasi sangat membantu menyeimbangkan mood

pentas yang berdurasi sekitar 1,5 jam itu.


Jumat, 28 November 2008

markonah

Markonah alias Marsinah

PERJALANAN hidup Marsinah, aktivis buruh yang mati mengenaskan, digarap Teater Buih melalui pertunjukan monolog. Malam itu, Sabtu (5/5), di kampus Fakultas Sastra Undip, meskipun nama Marsinah diganti dengan Markonah, masih dapat dibaca jika apa yang terjadi adalah kisah hidup Marsinah.

Pertunjukan dimulai dengan tampilan demonstrasi buruh melalui siluet. Aksi lalu berubah menjadi kekerasan. Saat siluet menunjukkan klimaks keadaan chaos, muncullah seorang aktris, diperankan oleh Novi Nopek, dari sebuah tong sampah. Sambil tertatih-tatih, ia mulai berdialog menceritakan latar belakangnya, perjuangan sebagai buruh yang menuntut keadilan sampai kematiannya yang tragis.

Ya, memang sangat mirip kalau tidak boleh dibilang sama antara kisah hidup Markonah dengan Marsinah. Sampai peristiwa detail sobeknya kemaluan Marsinah akibat penyiksaan pun diceritakan.

Ikon Perjuangan

Tampaknya Marsinah bagi penulis naskah, Tuti Setyawati, masih menjadi ikon perjuangan aktivis buruh perempuan yang menarik. Meski sepanjang pertunjukan didominasi dialog perih, di sela-sela itu masih diselipkan adegan tari dan menyanyi. Pertunjukkan pun terisi dengan nuansa semi opera.

Sekitar 30 menit Novi membawakan tokoh Markonah dengan baik. Namun rupa-rupanya naskah yang dibawakan kurang memberikan kesempatan eksplorasi panggung bagi aktor.

Belum terlihat penggarapan detail properti dan ruang pertunjukan untuk mendukung gagasan artistiknya. Sehingga Markonah selintas seperti hanya menyajikan keluh kesah Marsinah saja.

Selain menampilkan Monolog Markonah dari Teater Buih, acara peringatan Hari Buruh oleh Teater Emka itu juga menampilkan repertoar dari Among Jiwo, Teater Asa, Serikat Pengamen Indonesia, Teater Emka, serta performance art dari komunitas seni rupa Semarang dan Solo. Diskusi tentang perburuhan semakin menambah hangat suasana. (Sony Wibisono-45)

JADIJADIAN

Indonesia dan Kebudayaan Jadi-jadian

  • Oleh Sony Wibisono

"KEBUDAYAAN adalah sesuatu yang tidak pernah menjadi!" ujar Anis Soleh Baasyin, budayawan dan penyair asal Pati, untuk menegaskan sifat kebudayaan.

Anis, Senin (16/4) malam, didaulat sebagai pembicara dalam "Obrolan Blung" yang dimotori Journalist Institute for Culture di Pojok 86, Karangnongko, Kudus.

Dengan penuh vitalitas Anis berusaha mengajak peserta merumuskan kembali pemahaman kebudayaan masyarakat Indonesia. "Kita seringkali tidak bisa mengidentifikasi diri. Di satu sisi, kita merasa sebagai orang Indonesia. Di sisi lain, kita sebenarnya mengkonsumsi budaya bangsa lain," kata seniman yang akrab dipanggil Habib tersebut.

Lebih lanjut, dia mengatakan masyarakat Indonesia telah dijajah dengan tata nilai barat. Nilai-nilai tersebut merasuk ke berbagai sendi kehidupan dengan halus sehingga tidak pernah disadari.

Ya, mendengar uraian Anis yang berapi-api itu saya jadi teringat tesis David Cheney yang mengatakan bahwa neokapitalisme memberikan pengaruh ideologisnya melalui kebudayaan.

Kenyataan itulah yang sekiranya harus dimengerti karena ia bukan kapitalisme tradisional, yang secara ekstrem bisa diserang kelompok sosialisme dengan perbedaan kelasnya.

Namun ideologi baru itu bersembunyi di balik nilai-nilai kebudayaan massa yang di belakangnya diikuti kepentingan dan keuntungan terhadap komoditas.

Setidaknya realitas masyarakat Indonesia yang seperti itulah yang dikritisi Anis. "Nilai-nilai lokalitas kita memang sudah kalah dengan serbuan pemikiran dari barat. Kenapa kita lebih kenal Derida, Barthes, atau Foucoult? Mengapa Ronggowarsito atau Sosrokartono serasa hilang dari budaya kita?" ujarnya memancing.

Menarik memang mengikuti pembicaraan Anis dengan vokalnya yang serak-serak basah. Sayangnya, diskusi yang digagas oleh anak-muda itu terkesan menjadi ajang obrolan orang-orang tua saja. Entah materi yang disampaikan Anis terlalu berat atau dia tidak sanggup menjembatani pemikiran filosofisnya dalam bingkai yang lebih sederhana.

KERETA KENCANA

Kereta nan Lempang

  • Oleh Sony Wibisono

TEATER Fajar Universitas Muhammadiyah Magelang memainkan Kereta Kencana, saduran WS Rendra dari Les Chaises Eugene Ionesco, di Padepokan Seni Murni Asih (Pasma) Kudus, Rabu (31/10) malam. Mereka bermain di ruang cukup sempit, tetapi tak terhalangi untuk membawakan kisah secara maksimal.

Tata panggung dan kostum ala Barat adalah pertanda mereka berpegang teguh pada pakem naskah. Dua aktor, Yullie Lodhok dan Mbakser, menunjukkan kekompakan dengan tim artistik. Sekitar satu setengah jam pertunjukan berlangsung amat rapi.

Namun ada yang mengganjal. Ternyata materi absurditas masih muncul samar-samar. Meski sudah melalui saduran Rendra, roh absurdisme yang kental dari Ionesco sebagai tokoh eksistensialis masih tertanam dalam naskah itu. Jika Ionesco berpandangan pesimistis karena terpengaruh perang, Rendra menyoroti kedatangan kematian.

Maka, sebenranya istilah absurdisme yang mencuat di Eropa pasca-PD II itu tak boleh disikapi secara main-main. Karena, ia bisa menunjukkan fenomena yang mengejutkan di tengah laku realitas yang sangat wajar, atau sebaliknya.

Seperti analisis Camus tentang absurdisme, misalnya. Dia memulai dengan menunjukkan secara wajar bahwa orang bisa menemukan dan cukup mudah menerima kehidupan sehari-harinya. Namun saat menjalani kehidupan, suatu hari muncul pertanyaan bermakna, semisal "mengapa?".

Itu masih terlihat jelas pada Kereta Kencana. Ya, sikap pesimistis suami-istri atas kehidupan yang memunculkan harapan imajinatif berpadu dengan ketakutan menghadapi kematian.

Kehidupan meluncur apa adanya. Namun setiap kali mereka tercambuk oleh perasaan hidup segan mati tak mau. Mungkin cuma cinta yang membuat mereka tertawa, tersenyum, dan bangga, meski sekadar pada kenangan dan bayang-bayang.

Tidak Mudah

Tak dimungkiri pemahaman naskah itu tak mudah. Namun tak berarti mustahil. Teater Fajar cukup cerdas mengatasi ruang imajinasi dengan penataan cahaya cukup strategis. Meski dengan peralatan sederhana, komunikasi antara setting (jendela dan pintu) dan lampu berhasil menunjukkan suasana lain dalam permainan.

Namun, alur Kereta Kencana, yang disebut realis oleh sutradara M Sugeng realis, berjalan sangat lambat. Kelambatan tempo itu tak menunjukkan strategi apa-apa. Ia lambat karena terpancang pada gambaran ketuaan para tokoh.

Tak ayal, permainan dialog, tempo, dan suasana pun monoton. Adegan imajiner kedua tokoh pesimistis itu -- yang acap muncul dalam naskah -- cuma numpang lewat. Karena, jelas terlihat ada ruang yang belum dimanfaatkan sutradara untuk "menyentuh" para aktor.

Suami-istri berusia dua abad itu malah kerepotan membawa ketuaan mereka dalam permainan. Itulah yang membuat Kereta Kencana berjalan lempang, tanpa kelokan, tanpa kejutan. Mereka memang telah masuk dan bergulat dengan naskah yang dianggap berat di dunia teater itu. Dan, mungkin itulah pergulatan intelektual mereka yang belum lagi usai.

Selasa, 26 Agustus 2008

bulan kabangan


Senin, 12 Juli 2004
BUDAYA
Ironi dalam Bulan Kabangan
DENGAN ekspresinya yang dingin, Amangkurat menusukkan keris ke dada Trunojoyo. Tubuh tegap itu lalu rubuh bersimbah darah, mengejang, mengerang, dan meregang nyawa. Tokoh dari Madura itu telah mati, dan raja Mataram boleh saja merasa telah memenangkan perang.
Tapi lakon ''Bulan Kabangan'' yang dimainkan Teater Emka, Jumat-Sabtu (9-10/7) malam belum berakhir pada adegan itu. Sony Wibisono, sutradara sekaligus penulis teks lakon yang diadaptasi dari cerpen Bre Redana dengan judul sama, masih banyak memunculkan adegan kebengisan Amangkurat (dimainkan Kustam Ekajalu) terhadap Trunojoyo (Anton).
Lihat misalnya bagaimana sang raja keji itu memerintahkan jasad penuh luka itu dibiarkan di jalanan agar menjadi santapan anjing. Lebih bengis lagi, kepala mayat itu ditumbuk di dalam lesung.
Ada semacam ironi di situ. Amangkurat yang murah senyum nyatanya memiliki tangan yang ''berlumuran darah'' kekejaman. Sebuah kelicikan ala Jawa yang telah dikenal dalam sejarah.
Tak hendak menyederhanakan, lakon ''Bulan Kabangan'', paling tidak pada teks Sony yang diracik dalam bahasa puitis, agaknya memang dipenuhi ironi.
Ironisme lainnya terjumpai pada keyakinan Trunojoyo yang menganggap dirinya trah perwira tapi terpecundangi oleh Amangkurat, orang yang diejeknya bertrah petani. Ia menganggap dirinya pahlawan, tapi sebaliknya, Mataram memberi stempel besar di jidatnya sebagai seorang pemberontak.
Di luar persoalan tematis itu, kemasan Sony cukup memikat. Jawa yang dibicarakan "Bulan Kabangan" seolah-olah memang terepresentasi secara bernas pada simbol-simbol di panggung. Lesung dan alu yang menjadi bagian setting panggung juga alat musik boleh disebut sebagai salah satu contoh simbol paling tipikal.
Adegan demi adegan kekerasan yang tersaji itu memanglah mendedahkan sebuah ironi. Gambaran raja-raja Jawa yang wajahnya senantiasa diliputi senyum itu seolah-olah kalis oleh kekejian dan kebengisan dalam sosok Amangkurat.
Pada lakon serupa itu, selalu ada kesulitan mengidentifikasi manakah sang pahlawan dan manakah sang pecundang. Lantas, masih pentingkah hero dalam kemasan lakon modern seperti garapan Sony itu? (Rukardi, Saroni Asikin-81)
Berita Utama | Ekonomi | Internasional | OlahragaSemarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | BanyumasBudaya | Wacana | RagamLiputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

perjumpaan di tepi jalan : membaca ruang berada

Senin, 08 Agustus 2005
BUDAYA
Lakon Simbolik Teater Emka
TEATER Emka kembali membuktikan diri sebagai teater kampus yang aktif berkreasi. Setelah tahun lalu mementaskan "Bulan Kabangan", kini mereka memainkan lakon "Perjumpaan di Tepi Jalan: Membaca Ruang Ber-Ada". Pertunjukan tersebut baru-baru ini digelar di Gedung Serbaguna Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.
Selain tercatat sebagai teater kampus yang rutin menyelenggarakan pentas, Emka juga dikenal sebagai salah satu penghasil pelaku teater.
Dalam pertunjukan kali ini, seorang sutradara baru, Anton Sudibyo, dimunculkan. Dia berhasil menggarap sebuah pertunjukan sarat simbol menjadi sebuah tontonan yang layak dinikmati. Seperti pertunjukan Emka sebelumnya, pentas kali ini juga menyisipkan pesan moral.
Selama 2 jam, Anton mencoba menghadirkan kondisi modernitas dengan percepatan waktu, yang akhirnya merujuk pada pertanyaan tentang identitas. Naskah lakon kali ini merupakan hasil kerja tim naskah Emka yang telah melakukan riset, kalau boleh dibilang begitu, selama kurang lebih 2 bulan.
Menurut asisten sutradara, Sony Wibi, secara konsep dirinya dan Anton memang mau tak mau harus bergulat dengan banyak kendala. Yang utama adalah bagaimana memaparkan naskah, yang secara tak langsung merujuknya pada konsep pertunjukan yang "liar".
Hal itu bisa dilihat di atas panggung, di mana para aktor bisa mewakili tokoh yang jamak. Kadang mereka tampil sebagai pekerja kantor yang diburu waktu, kemudian berubah menjadi seorang yang keberadaannya serba entah (termasuk seksualitas). Lalu, berubah lagi menjadi sepasang muda mudi yang bercinta meski dilarang. Bahkan, sesekali menjadi patung-patung yang bisa berjalan dan berbicara. Di sinilah tampaknya, percepatan waktu dalam zaman modern ini ditampilkan.
Sisi lain, modernitas juga muncul dalam iringan musik yang menghentak layaknya suasana di diskotek, dengan lampu warna-warni. Kendaraan bermotor yang lalu lalang ditampilkan dalam layar, juga telepon genggam yang dikenal sebagai alat komunikasi canggih masa kini.
Hanya Tempelan
Sayang, tengara modernitas yang ingin ditampilkan melalui kota Semarang, kurang bisa ditampilkan secara utuh. Pemunculan nama seperti Pandanaran, Sam Poo, The Hoo dan yang lain terkesan hanya sebagai tempelan.
Adapun soal feminisme, sebagai salah satu penanda era modernisme, sedikit terlupakan. Pada salah satu adegan, di mana aktor laki-laki dan perempuan menyatu dalam sebuah kotak yang bisa digerakkan, tampak aktor lelakilah yang menjadi penggerak. Sementara kaum perempuan hanya mengikuti.
Apakah ini hasil dari teropong Emka bahwa sebenarnya kaum perempuan memang belum berdaya di era modern? Ataukah hanya sebuah tanda yang sebetulnya tak perlu dimaknai, hanya mereka yang tahu.
Selebihnya, sekali lagi, Teater Emka telah membuktikan kiprahnya sebagai salah satu teater kampus di Semarang. Teater tersebut seolah tak lelah menghasilkan generasi demi generasi untuk ikut mewarnai dunia kesenian. Dan, kita harus menghargai mereka, yang secara berani menyebutkan bahwa sejarah panjang kita adalah pertunjukan. (Fahmi Z Mardizansyah-43)
Berita Utama Ekonomi Internasional OlahragaSemarang Sala Pantura Muria Kedu & DIY BanyumasBudaya Wacana RagamCybernews Berita Kemarin
Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA

monolog SUjiwo tEjo


Kamis, 24 Januari 2008
बुदाय

Menggugat Kemunafikan Jawa


LAKI-LAKI berambut gondrong itu berdiri memejamkan mata. Saksofon tenor berwarna emas masih ia pegang bak seorang bayi di pelukannya. Sementara itu lagu yang konon terinspirasi dari puisi "Tanah Air Mata" Sutardji Calzoum Bachri menjadi latar belakang keterdiaman itu.
Lagu pun selesai, laki-laki yang selama ini terkenal dengan sebutan dalang edan itu pun mengambil jarak beberapa langkah dari mikrofon yang ada di hadapanya. Lalu sesaat kemudian, alunan improvisasi dari saksofon pun terdengar.
Ya, begitulah Sujiwo Tejo membuka pertunjukannya pada pentas seni Kongres Komunitas Kesenian Indonesia (KSI) di aula gedung DPRD Kudus baru-baru ini. Tejo terus memainkan nada-nada sendu sebelum kemudian ia mengucapkan suluk ala dalang.
Bukan pertunjukan wayang yang akan ia mainkan. Lebih tepat jika ia bermonolog. Tejo yang tampil tunggal menyampaikan cerita percintaan segitiga Rahwana-Shinta-Rama yang selama ini sangat dikenal.
Tapi malam itu mantan wartawan tersebut menyuguhkan versi yang berbeda. Selama ini citra Rahwana merupakan sosok protagonis yang jahat. Sedangkan Rama adalah pahlawan dan kebenaran itu sendiri. Maka ketika Shinta dibawa lari Rahwana, dalam monolog Tejo, bukanlah semata-mata kesalahan Rahwana.
"Maka bukan Rahwana yang jahat tetapi Shinta yang kegatelan!" lantang ia berucap. Sejenak ia berhenti dari keaktoran yang ia lakonkan di panggung kemudian berinteraksi dengn penonton.
"Ini sama saja dengan Gatotkaca yang pada abad XVIII akhirnya dibuat menjadi sosok ksatria yang wajar. Padahal sebenarnya ia adalah raksasa, Orang Jawa seakan-akan malu mengakui jika orang yang berbuat baik itu penampilannya buruk," katanya.
Cinta Dingin
Pertunjukan pun ia lanjutkan. Kali ini ia memerankan Shinta yang sebenarnya kesepian di samping Rama yang rupawan. Ketampanan, kebaikan Rama seakan hampa bagi Shinta karena Rama sebenarnya bukan orang yang romantis. Rama bahkan tidak bisa nembang untuk menghibur Shinta. "Saya tanya, enak nggak ciuman dengan suami yang tidak pernah dibakar cemburu?" kata Tejo kepada penonton. Begitulah kira-kira percintaan Rama Shinta yang terlanjur di-ngin.
Berikutnya Tejo mengetengahkan adegan Rahwana dan Shinta di tempat penculikan. Shinta saat itu menghunus keris dan ia dekatkan dengan perutnya. Jika Rahwana menyentuhnya, ia akan menusukkan keris itu ke tubuhnya sendiri. Dengan begitu ia masih menjaga cintanya kepada Rama.
Namun Rahwana mendekat dan berujar bahwa hal itu tidak perlu dilakukan. Alih-alih akan menodai Shinta, justru Rahwana nembang di depan Shinta. Shinta pun tergetar mendengarnya. Ia membalas tetembangan Rahwana, dan ia merasakan kehangatan cinta di sekujur tubuhnya dan ia pun jatuh dalam pelukan Rahwana.
Disinggung tentang judul monolog di akhir pentas Sujiwo Tejo memang tidak memberikan judul. "Saya hanya ingin menggugat kemunafikan orang Jawa," katanya menjelaskan monolog yang berbau spontanitas itu. (Sony Wibisono-45)
Berita Utama | Ekonomi | Internasional | OlahragaSemarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | BanyumasBudaya | Wacana Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA
_uacct = "UA-801270-1";
_udn="suaramerdeka.com";
urchinTracker();

suara lakon dalam sphinx triple xxx


Rabu, 17 Januari 2007
BUDAYA
Mimikri Penebar Teror


DOKUMENTASI tentang Soeharto sejak diangkat sebagai presiden hingga mengundurkan diri membuka pementasan, malam itu, Senin (15/1). Fokus lalu berubah ke seorang aktor yang tergeletak di pinggir panggung. Perlahan sang aktor, Sony Wibisono, bangun dan berkata, "Nama saya Atmudin bin Mudinat."
Dia memperkenalkan diri sebagai petani kere. Dia berubah sejak menerima warisan dari Mas Har, pria yang ditemuinya secara tak sengaja. Dari Mas Har, Atmudin memperoleh banyak cerita tentang Sphinx. Itulah makhluk mimikri, yang bisa berubah wujud, menimbulkan wabah penyakit, penebar teror, dan sebagainya.
Sampai adegan itu, penampilan Sony cukup prima. Dia membawakan naskah monoplay karya Benny Yohanes itu secara serius, tetapi cair.
Beberapa kali dia membuat penonton tertawa. Namun tak jarang pula dia membuat penonton berkerut dahi mencerna kalimat-kalimatnya.
Sony yang merangkap sebagai sutradara masih mau berkompromi dengan penonton. Potongan dokumentasi membantu penonton memahami pertunjukan itu. Meski berkesan sekadarnya, setidaknya itu menolong penonton memahami bahwa cerita Sphinx Triple X bisa jadi ada di Indonesia, bahkan di lingkungan terdekat kita.
Ya, Mas Har berkisah berhasil mengalahkan Sphinx. Namun saat berusia menjelang senja dia baru menyadari bahwa Sphinx adalah dirinya sendiri. Atmudin pun akhirnya merasa Sphix menjalar ke tubuhnya.
Pertunjukan malam itu berlangsung di Padepokan Seni Murni Asih, Kudus. Bagi Sony, itu pertunjukan keempat. Sebelumnya dia mementaskannya di Semarang (dua kali) dan Makassar. Penyelenggara pementasan malam itu adalah Satubumi, Poentoen Studyart, dan Teater Aura Fakultas Psikologi UMK. (Adhitia Armitrianto-53)
Berita Utama | Ekonomi | Internasional | OlahragaSemarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | BanyumasBudaya | Wacana Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA
_uacct = "UA-801270-1";
_udn="suaramerdeka.com";
urchinTracker();

suaralakon

suaralakon

blog untuk forum komunikasi seniman teater, tari, musik, fotografi, seni rupa dan sebagainya.